Kamis, 14 Maret 2013

KEBIJAKANMU GUZ

     Kamis, petang setelah sholat magrib 14 Maret 2013, perasaan akhir ini kepala terasa pusing sekali. Ntah karena kecapean atau mungkin karena lagi sakit kepala yang jelas tulisan ini bisa jadi obat. Keagungan sosok bapak liberal yang dikenal dengan paggilan gus dus (Abdurrahman Wahid) sudah tak asing lagi ditelinga kita masyarakat Indonesia. Yah,,sosok cendekiawan yang juga presiden ke 3 negri ini semasa pemerintahanya menimbulkan banyak kontofersi. Wajar setiap kebijakan yang diambil olehnya adalah kebijakan yang sifatnya tingkat tinggi.
    Bentuk konkrit kebijakan tersebut adalah diperbolehkanya bendera OPM papua berkibar di tanah papua namun dengan ketentuan berada lebih rendah dari sang merah putih. Satu bentuk kebijakan yang dikalangan MPR maupun DPR kala itu sangat tidak rasional, namun terbukti dengan kebijakan itu tanah papua menjalin hubungan baik dengan ibu kota jakarta dan dengan sepenuh hati mengakui sebagai bagian dari NKRI. Sebagian kecil kebijakan yang sebenarnya patut untuk diapresiasi karena mengingat kala itu di tanah papua terjadi pergolakan ingin menjadi negara sendiri. Kalau kita boleh melihat dengan suudut pandang luas, memang hal itu menjadi pilihan yang baik bagi tanah papua karena dikatan merdeka dari penjajah asing namun mereka dijajah oleh bangsa sendiri. Kekayaan alam yang begitu melimpah ruah dikeruk habis oleh kebijakan-kebijakan yang mengandung unsur menguntungkan kelompok tertentu, sehingga rakyat papua merasa semua dinikmati oleh orang-orang yang ada di jakarta. Mengingat segala bentuk kemajuan pembangunan dan akses sengat pesat bagi pusat ibukota dan tidak dirasakan merata bagi rakyat papua.
    Kebijakan itupun hanya berlangsung selama gus dur menjabat sebagai presiden, ketika beliau lengser dikarenakan penyakit yang diderita beliau digantikan oleh wakil presiden yakni mega watisukarno putri. Setelah itu terdengar bahwa pemimpin utama OPM ditembak mati dan akhirnya menimbulkan gejolak yang lebih luas dan sangat menyedihkan. Kenapa ?? karena bangsa ini berkonflik bukan melawan penjajah tapi melawan bangsanya sendiri ya tanah papua vs pemerintah negara. Kalau saja pemerintah saat itu tidak tergesa-gesa melakukan tindakan demikian dan mendalami kebijakan gus dur maka akan lebih baik. Hal ini tidak berbeda dengan DIY yang  menggembor-gemborkan negri di dalam sebuah negara, toh hingga sekarang kehidupan rakyatnya sangat hanggar beni alias tidak ada masalah (kalo tidak salah arti) selama kebijakan yang dibuat tidak merugikan semua pihak terutama rakyat.
    Coba kita bayangkan ketika tanah kelahiran kita mempunyai banyak potensi alam yang dapat dimanfaatkan dan menjadi prioritas utama untuk kehidupan serta kesejahteraan diambil oleh orang lain, bukan dalam jumblah sedikit namun banyak sekali. Tentu kita akan mempertahankan itu semua karena kita tau bahwa itu adalah hak kita, perihal itulah yang saya sinyalir sama dengan apa yang dilakukakn oleh rakyat papua. Mereka tidak mau hidup dalam keterbelakangan, mereka sadar bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendapatkan fasilitas dan kehidupan yang layak dari negara dan itupun juga sudah diatur dalam undang-undang.
    Bagi Gus Dur, mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tanah yang panas,Papua, bukan dengan cara-cara kekerasan militer, melainkan dengan cara-cara damai dan akomodatif ( dikutip dari www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/.../38).Oleh karen itulah kesedihan kita sekarang terasa, betapa sosok yang cendekiawan dan pemimpin yang memihak pada rakyat telah tiada. Lihatlah prinsip sang Beliau Agama, Negara, baru keluarga (ini didapat dari pengakuan langsung wawancara anak gus dur). Betapa mulia, hingga sampai beliau tiadapun sebagian rakyat terus mendoakanya.
*Tulisan ini adalah sebagian cerita yang didapat dari tayangan MEMOAR Kompas Tv*

Rabu, 13 Maret 2013

Media Butuh Dana


ANALISIS MEDIA
            Kuliah pagi bersama dosen muda Bpk Anak Agung Ibnu Achmed. Dengan bahasa gaul beliau menyampaikan materi tentang perbedaan berita tv dan radio. Namun bukan caranya ngajar atau materi yang dijelasakan “haha panjang bray 3 sks”. Namun tulisan ini lebih pada renungan saya pribadi sebagai seorang mahasiswa yang kuliah dibidang komunikasi untuk sedikit menganalisis hasil dari apa yang saya tangkap.
            Menyinggung masalah isi dari pemberitaan media massa terutama televisi mulai awal tahun 2013 kasus korupsi kembali hangat, yakni tokoh mantan bendahara umum partai demokrat Anas Urbaningrum menjadi sorotan banyak media massa. Sosok ini menjadi pembahasan yang ditunggu-tunggu oleh kalangan yang peduli dan mengawal kasus-kasus korupsi saat ini, namun menjadi pembahasan yang menjenuhkan bagi sebagian besar orang yang gak perduli dengan perihal korupsi karena sudah kayak senetron tayanganya , itu-itu melulu, anas-anas melulu.. Bukan itu juga yang saya bahas disini, sebelumnya maaf jika nantinya ada kesalahan dalam rumusan analisis saya.


            Begini .....fungsi media masa salah satunya adalah kontrol sosial, tapi apa itu berfungsi sebagaimana mestinya yah mungkin dari anda berkata ya benar buktinya berita korupsi tadi ditayangkan supaya seluruh masyarakat tahu. Oke-oke betul saya tidak menyalahkan anda, dan ini pendapat saya , 

Dalam teori fungsi media dikenal slah satunya sebagai kontrol sosial, namun faktanya semua berita yang diperoleh dari sumber berita akan di saring dan dipilah oleh para redaksi/redaktur yang sudah mempunyai agenda penayangan dan alur berita baik dalam sekala harian, mingguan, maupun tahunan. Nah disinilah agenda tersebut dapat dipengaruhi oleh para pemegang saham terbesar (yang memodali) segala kebutuhan produksi media, Dengan alih-alih berita aktual ketika ada sebuah isu penting maka secara terencana di alihkan dengan berita yang aktual dan ditayangkan terus menerus. Dengan demikian maka isu utama yang penting akan tertutup dengan isu yang sedang booming.
            Contoh kasus Bank Centuri yang bertahun tahun tidak dapat dikawal dengan baik, karena banyak isu-isu baru dimunculkan semisal terorisme maupun konflik antas suku yang lebih update sehingga isu utama yakni centuri menjadi tenggelam lenyap. Dan baru sekaranglah kembali sedikit terangkat masalah centuri karena Anas Urbaningrum. Sebenernya masalah utama ialah modal dari media tersebut, tak salah juga jika penyalah gunaan media massa berlaku dimana-mana karena sebagain penunjang kepentingan pribadi maupun kelompok secara universal.
            Tak ada yang menyangkal jika saya katakan sekarang ANTV dan TV One menjadi media promosi bagi partai Golkar karena pemegang saham terbesar adalah keluarga Aburizal Bakrie dengan Bakrie groupnya. Sedangkan Global tv, MNC tv, dan RCTI menjadi tunggangan pengusaha Haritanung Sodiebjo yang awal tahun bergabung dengan demokrat sekarang dengan Hanura dengan MNC Groupnya. Oleh karena itulah siapa yang memiliki media maka secara otomatis dan gencar mereka menggunakanya sebagai media promosi pada masyarakat luas. Demikianlah sedikit analisis saya mungkin masih banyak perbaikan hingga tulisan ini dapat dibukukan entah tahun kapan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

RAKYAT KECIL MENJERIT


Tulisan ini tentang jeritan rakyat,tepatnya nelayan kecil

            Maret,13-03-13 malam dengan suasana panas kamar kos jari-jemari merasa gatal ingin menyentuh keyboard netbook. Terbesit di otak untuk menuangkan apa yang berkecambuk setelah beberapa hari lalu melihat tayangan di TVRI tentang “PUKAT HARIMAU”, yah mungkin ini adalah salah satu dari jenis kejahatan besar nyata yang baru saya ketahui dari beribu kejahatan yang menyerap sum-sum kehidupan rakyat kecil. Kenapa saya bilang rakya kecil, karena mereka terus ditindas, dirampas haknya, dibiarkan tersingkir, dan bahkan dibiarkan menjerit di atas penderitaan yang dibuat oleh segelintis manusia yang serakah.
Tak usah panjang lebar (yaaah to the point) pukat dalam bahasa adalah jaring (jala) besar dan panjang untuk menangkap ikan sedangkat maksud dari pukat harimau adalah jaring  pukat yg sangat besar yg digerakkan oleh mesin sehingga dapat menangkap ikan secara besar-besaran;. Inilah salah satu alat penngkap ikan yang dapat merusak ekosistem biota laut. Pemodal yang kuat dengan leluasa merampok kekayaan biota laut negri ini, dan heranya kenapa mereka malah diberi jalan untuk menjalankan keserakahan mereka. Malah juga diatur oleh para anggota DPR maupun MPR (wah wah nampaknya konspirasi edan – edanan coyyy), sebenarnya apakah untung yang di dapat negara lebih besar (boro-boro negara kantong pribadi gue duluan *ocnum bangsat*) dari pada kerusakan yang dialami baik kerusakan alam maupun kerusakan sistem ekonomi dan sosial masyarakat. Kebanyakan dari negri ini juga PMA (Perusahaan Modal Asing) yang banyak berkembang, tapi gitu aja somsenya minta ampun padahal yaaaa... hmm buka mate loe para pengusaha bajingan kita tu di rampok besar-besaran bukan di modalin. Sebenere gua juga bingung ama bahasan gue kali ini karena udah emosi tinggi tapi gak papa lah lanjut aja “:)
Kembali ke pukat, ini terjadi di hampir seluruh kawasan indonesia karena notabene negri kita adalah maritim alias terdiri dari pulau-pulau, dan salah satunya adalah di langkat. Yah berdasarkan informasi bahwa penangkapan dengan pukat sudah diatur dalam undang-undang yakni dapat dilakukan dengan jarak diluar 600mil dari bibir pantai, karena kawasan itu diperuntukkan bagi para nelayan kecil sebagai sumber penghsilan mereka. Tapii namanya orang pengusaha (dg prinsip modal nol untung sebesar-besarnya) dikasih wilayah tangkapan yang luas hingga memutari lautan masih aja nerobos jalur 600mil milik nelayan kecil *bajiguurr tenan*. Akibatnya semua tatanan biota laut berantakan dikeruk, bukan hanya ikan terumbu karang, kepiting, udang, maupun gajah laut (hoohoo ada po), nyangkut semua sehingga ekosistem dan perkembang biakan biota itu jadi rusak. Saran saya ayo kita jadi pengusaha, tapi yang baik-baik untung boleh banyak tapi kita harus mikir bisa idup gak generasi kita besok, beegono bapake.
Sidang pembaca..selain dampak itu masalah yang muncul ialah berimbas pada para nelayan kecil yang hidup di kawasan pesisir pantai, mata pencaharian mereka semakin hari semakin hilang dilahap buto ijo berkepala hitam (baca pengusaha cap setan dan bajingan). Komplit sudah penderitaan mereka, apakah ente juga merasakan kepedihan mereka (kalo gue iya buktinya gue mau nulis masalah ini, sekalian mohon disebarkan ye). Bukan tiada prlawanan, bukan tiada pemberontakan, mereka yang merasa hak untuk hidupnya dirampas melakukan aksi nekat dengan bersama-sama membawa perahu kecil mereka untuk berlayar pada batas 600mil berdemo. Di tengah laut mereka coba mengentikan kapal besar yang membawa pukat itu agar tidak masuk pada daerah 600mil, namun sialah kapal yang besar tetap menerobos hingga menabrak perahu nelayang yang kecil Waaaaal hasil satu prahu pecah terbail dan satu korban meninggal serta tidak diketemukan jasadnya. Sungguh pahlawan negara untuk rakyatnya (saya berdoa semoga dia di terima di sisi ALLAH SWT).
Penderitaan itu belum seberapa, korban tersebut yang di ketahui bernama Syarifudi Efendi juga meninggalkan 2 anak yang masih kecil, yang masih sangat membutuhkan kasih sayang, kehangatan keluarga, harus merelakan sang ayah dihabisi oleh kapal para bajingan ti tengah laut sedangkan ibu mereka sudah jauh meninggalkan mereka. Sungguh kejadian yang sangat menyedihkan bagi kita.. Buka mata, orang bilang tanah kita tanah syurga tapi dimanakah letak syurga itu bagi rakya kecil, bagi mereka tanah ini adalah neraka-dan neraka. Dimana wakil rakyat berada apakah mata dan telinga mereka telah benar-benar tertutup dengan kemewahan dan kenikmatan fasilitas yang diperoleh. Mohon diingat para pejabat ITU SEMUA YANG LOE PAKAI UANG RAKYAT.TEGAS UANG RAKYAT. Ko’ seenaknya ente duduk bertengger tanpa dosa menikmatinya.
Hmm ya sudahlah bagi kita rakyat kecil hanya bisa bersama-sama berusaha bagaimana kita dapat hidup selayaknya tanpa harus mengandalkan mereka, ya mengandalkan mereka buat apa bisanya Cuma nginjek harga diri negri sendiri. Sekilas inilah pengetahuan baru saya tentang kejahatan besar yang dilakukan rakyat besar terhadap rakyat kecil negri ini, tapi rakyat besar itu adalah buto ijo, mudah mudahan pembaca tidak merasa bosan dengan apa yang saya sampaikan dan *trimakasih*.

Selasa, 12 Maret 2013

Panggung Politik Artis (12/03/2013) Politisi? Artis?,


Politisi? Artis?,
Dua profesi yang sangat berbeda, namun itupun menjadi tidak berarti jika gairah atas kuasa, jabatan, dan harta menjadi harga mutlak untuk dibuat sama ataupun menjadi sebuah alat mendapatkanya. Tak dapat dipungkiri menjadi sebuah publik figur sangat menguntungkan bagi mereka dan dengan mudah mendapatkan suara. Sebenarnya tidak menjadi masalah besar jika mereka benar-benar berkompeten dalam politik, namun kenyataan yang terjadi sekarang di gedung MPR maupun DPR/DPRD para artis yang menjadi anggota hanya mengisi absen kehadiran pada waktu rapat sidang bahkan rapat yang mengatur sebuah kebijakan penting untuk rakyat.
            Petang ini salah satu  stasiun TV suasta, sebut saja dengan inisial K tv menayangkan beberapa calon legislatif/ caleg dari kalangan artis, dan dari mereka ada yang dihadirkan dan diwawancarai perihal pencalonan mereka  yakni pemandu acara “survei membuktikan” Sony Napitupulung (PDI P) dan mantan putri papua Putri Tere (PKB).
Pertanyaanya :
·         Apakah yang membuat anda mencalonkan diri menjadi calek pada pemilu tahun 2014?
Sony : Karena itu sudah menjadikeinginan dari dulu, dan sejak dulu sewaktu kuliah juga sudah suka dengan kegiatan organisasi, tercatat pernah sebagai anggota GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), dan menjadi artispun sebuah kebetulan (caleg yang juga pernah maju pada tahun 2009).
Tere : Karena rasa kecintaan terhadap tanah kelahiran dan masih banyak yang belum teroptimalkan hingga sekarang, dan perlunya perubahan dengan menjadi caleg yang terpilih maka setidaknya bisa ikut menentukan sebuah kebijakan.
·         Dari manakah sumber pendanaan untuk menjadi seorang caleg?
Menyoal jawaban ini, Sony mengatakan itu pendanaan pribadi dengan takaran yang tidak berlebihan. Dia lebih memilih terjun langsung kepada rakyat dan memperkenalkan dirinya yang berkapasitas dalam bidang tersebut untuk lebih dikenal oleh masyarakat, tentu bila ad sponsor yang diterima adalah seponsor yang tidak dengan kontrak perjanjian tertent.
            Selain dari perbincangan soal diatas, mereka juga membenarkan bahwa antara parpol dengan para artis juga mendapatkan keuntungan bersama atau lebih kita kenal dengan simbiosis mutualisme (ada timbal balik). Dikatakan partai butuh artis dan artis juga butuh partai, jika parpol membutuhkan para artis ketika berkampanye atau sosialisai publik maka artik membutuhkan partai ketika mereka akan maju sebagai calon legislatif. Oleh sebab itu tak heran jika ada nama-nama artis yang maju pada pemilu 2014 disinyalir lebih banyak dari pada tahun2009.
            Kita (tidak termasuk yang golput) harus lebih memilah dan memilih dengan benar mana yang nantinya akan menjadi wakil mereka. Tak pantas jika seorang artis pornografi kita jadikan pimpinan (hanya sebagai contoh,, tapi adakan yang maju), karena itu semua hanya akan menjadikan berantakan tatanan rakyat “pornonya aja jadi masalah, apalagi esok memimpin salah-salah rakyatnya ntar dipornoin” .
Sekali lagi itu semua sebuah pilihan, jangan terlalu fanatik lihat dengan luas maka yang luas akan menjadi tujuan bersama.

Sabtu, 17 November 2012

DAKWAH DENGAN PENDIDIKAN ISLAM


DAKWAH DENGAN PENDIDIKAN ISLAM
MUHAMMAD MUSLIM (11210044)
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

Mengikuti ajaran sang panutan nabi Muhammad SAW pembawa Islam yang dapat mengembangkan islam ditanah yang sudah mempunyai kebudayaan memang sangat diperlukan. Bagaimana menyebarkan ajaran islam dengan baik yang tujuannya adalah untuk berdakwah tanpa harus ada unsur pemaksaan dan tindakan anarkisme. Nilai amar ma’ruf nahi munkar yang didakwahkan akan lebih efektik dan efesien serta mengundang sikap simpati dengan uswah hasanah kepada yang didakwahi/ mad’u. Bila budaya juga merupakan jalan yang sangat baik digunakan maka penyebaran islam juga sangat baik dilaksanakan dengan cara demikian.
Sejarah masuknya Islam ke wilayah Nusantara sudah berlangsung demikian lama, sebagian berpendapat bahwa Islam masuk  pada abad ke-7 M  yang datang lansung dari Arab. Pendapat lain mengatakan bahwa Islam masuk pada abad ke-13, dan ada juga yang berpendapat bahwa Islam masuk pada sekitar abad ke 9 M atau 11 M . Perbedaan pendapat tersebut dari pendekatan historis semuanya benar, hal tersebut didasar bukti-bukti sejarah serta peneltian para sejarawan yang menggunakan pendekatan dan  metodenya masing-masing [1].
Berdasarkan landasan bahwa islam adalah agama rahmatalil’alamin, maka dalam penyebaranya agama islam di Nusantara (Indonesia) setelah dengan beberapa macam hal penyebaran Islam para pembawa ajaran Islam/ ulama’ juga menggunakan sistem pendidikan berdasarkan cultur budaya  yang sudah berjalan ketika itu. Dakwah yang dilakukan juga berdasarkan sistem pendidikan berupa pondok pesantren salaf. Dengan upaya tersebut dapat dilihat bagaimana perkembangan pesat agama Islam hingga pada massa sekarang.
Dakwah dengan studi pengembangan Islam di Indonesia dapat digambarkan demikian, bahwa lembaga/ sistem pendidikan Islam di indonesia mulai dari sistem pendidikan (1) langgar, kemudian sistem (2) pesantren, kemudian berlanjut dengan sistem (3) pendidikan kerajaan-kerajaan Islam, akhirnya muncul sistem (4) klas[2]. Masing-masing dari sistem tersebut mempunyai cara tersendiri dalam pengajaranya. Adapun sistem pendidikan di pesantren ialah dimana seorang kiyai mengajari santri dengan sarana masjid sebagai tempat pengajaran/ pendidikan, dan didukukng oleh pondok sebahai tempai tinggal santri. Di pesantren juga berjalan dua cara, yakni (1) sorogan dan ((2) halaqah. Hanya saja sorogan di pesantren biasanya dengan cara si santri yang membaca kitab, sementarakiyai mendengar sekaligus mengoreksi kalau ada kesalahan[3].
Menurut asal katanya pesantren berasal dari kata santri yang mendapat awalan imbuhan pe dan akhiran an yang menunjukkan tempat. Dengan demikian pesantren artinya tempat para santri. Sedangkan menurut Sudjoko Prasodjo, “pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal, dimana seorang kiyai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa araboleh ulama abad pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut”. Dengan demikian dalam lembaga pendidikan Islam yang di sebut pesantren tersebut sekurang-kurangnya memiliki unsur-unsur: kiyai, santri, masjid sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan dan pondok atau asrama sebagai tempat tinggal para santri serta kitab-kitab klasik sebagai sumber atau bahan pelajaran[4].
            Tidak dapat disangkal bahwa pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional  dan sebagai sub-kultur dalam kehidupan bangsa Indonesia, memegang peran yang sangat penting dan signifikan dalam pembinaan mental dan pribadi masyarakat. Pondok pesantren yang jumlahnya ribuan dan tersebar di pelosok-pelosok daerah diseluruh nusantara, turut pula menymbangkan darma baktinya dalam usaha mulia melaksanakan misi penting ‘nation and character building’ bangsa Indonesia[5].
            Dahulu banyak model pesanten salaf yang dikembangkan yakni model pengajaranya tidak menggunakan sistem pendidikan secara kelas serta menggunakan kitab kuning sebagai bahan dalam memberikan pelajaranya. Kitab-kitab kuning yang banyak dipakai di pesantren salaf adalah kitab-kitab fikih, ushul fikih, tasawuf, tafsir, dan tauhid yang dikarang dikalangan ulama pada masa klasik sejarah Islam[6].
            Menurut beberapa literatur diantara karakteristik pesantren hampir semua sama begitu juga sebagaimana yang ditulis oleh Samsul Nizar yaitu pembagian karakteristiknya dari segi;

a.       Materi pelajaran dan metode pengajaran
Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren pada dasarnya hanya mengajarkan agama, sedangkan kajian atau mata pelajaranya ialah kitab-kitab dalam bahasa arab (kitab kuning).
Adapun metode yang lazim digunakan dalam pendidikan pesantren ialah:
1)   Wetonan, yakni suatu model kuliah dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kiyai yang menerangkan pelajaran. Santi menyimak kitab masing-masing dan mencatat jika perlu. Pelajaran diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum atau sesudah melaksanakan shalat fardlu, ada juga yang memberikan istilah bandongan ataupun halaqoh.
2)   Metode Sorogan, yakni suatu metode dimana santri menghadap kiyai seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajarinya. Metode sorogan ini merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan metode pendidikan Islam tradisional, sebab sistem ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin pribadi santri. Kendatipun demikian, metode ini diakui paling intensif, karena dilakukan seorang demi seorang dan ada kesempatan untuk tanyajawab secara langsung.
3)   Metode Hafalan, yakni suatu metode di mana santri menghafal teks atau kalimat tertentu dari kitabyang dipelajarinya.
b.      Jenjan Pendidikan
Jenjang pendidikan dalam pesantren tidak dibatasiseperti dalam lembaga-lembaga pendidikan yang memakai sistem klasikal. Umumnya, kenaikan tingkat seorang santri  ditandai dengan tamat dan bergantinyakitab yang dipelajari. Jadi, jenjang pendidikan tidak ditandai dengan naiknya kelas seperti dalam pendidikan formal, tetapi dalam penguasaan kitab-kitab yany telah ditetapkan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.
c.       Fungsi Pesantren
Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga berfungsi sebagai lembaga sosial dan penyiaran keagamaan. Sebagai lembaga pendidikan pesantren menyelenggarakan pendidikan formal (madrasah, sekolah umum, perguruan tinggi) dan non formal. Sebagai lembaga sosial, pesantren menampung anak-anak dari segala lapisan masyarakat muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, menerima tamu yang datang dari masyarakat umum dengan motif yang berbeda-beda. Sebagai lembaga penyiaran agama islam, masjid pesantren juga berfungsi sebagai masjid umum, yakni sebagai tempat belajar agama dan ibadah bagi para jama’ah.
d.      Kehidupan Kiyai dan Santri
Berdirinya pondok pesantren bermula dari seorang kiyai yang menetap atau bermukim disuatu tempat. Kemudian datanglah santri yang ingin belajar kepadanya dan turut pula bermukim di tempat itu. Sedangkan biaya kehidupan dan pendidikan disediakan bersama-sama oleh para santri dengan dukungna masyarakat di sekitarnya. Hal ini, memungkinkan kehidupan pesantren bisa berjalan stabil tanpa dipengaruhi oleh gejolak ekonomi diluar[7].
Berikut ini juga dipaparkan beberapa ciri yang sangat menonjol dalam kehidupan pesantren, sehingga membedakanya dengan sistem pendidikan lainya. Pada umumnya ada delapan ciri pendidikan pesantren yaitu:
1.      Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kiyainya.
2.      Adanya kepatuhan santri kepada kiyai.
3.      Hidup hemat dan penuh kesederhanaan.
4.      Kemandirian.
5.      Jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan.
6.      Kedisiplinan.
7.      Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan.
8.      Pemberian ijazah.[8]
Perlu dicatat bahwa ciri-ciri di atas merupakan gambaran sosok pesantren dalam bentuk yang masih murni, yaitu pesantren tradisional. Sementera dinamika dan kemajuan zaman telah mendorong terjadinya perubahan terus-menerus pada sebagian besar pesantren. Maka, pada akhir-akhir ini akan sulit ditemukan sebuah pesantren yang bercorak tradisional murni. Karena pesantren sekarang telah mengalami tansformasi sedemikian rupa sehingga menjadi corak yang berbeda-beda.
Disamping itu ciri-ciri pesantren di atas serta unsur-unsur kelembagaanya tidak bisa dipisahkan darisistem kultural dan tidak dapat pula dilekatkan pada semua pesantren secara uniformitas karena setiap pesantren memiliki keunikan masing-masing, tetapi pesantren secara umum memiliki karakteristik yang hampir sama.
Beberapa metode dakwah yang digunakan dalam pesantren.

Terdapat beberapa hal yang mesti dianalisis kembali mengenai  metode-metode  dakwah yang biasa dilihat dalam masyarakat, dari hal tersebut maka akan dengan mudah apa dan bagaimana dakwah pesantren, terutama alur yang representatif untuk memunculkan peran keagamaannya dalam konteks masyarakat kekinian.

Pertama, dalam Hidayat al-Mursyidin ila thuruq al wa’zi wa al irsyad (Kairo: Dar al I’tisam, tt). Syeikh Ali Mahfuz yang diakui sebagai berotoritas dalam ilmu dakwah membedakan dakwah itu sendiri dalam tiga ranah. Dakwah antar individu muslim, dakwah antar golongan umat muslim, dan dakwah umat muslim kepada non-muslim. Yang menarik adalah dalam perkembangannya justru dakwah hanya berkutat pada ranah yang terakhir, yakni dalam pengertian sederhana gerakan dakwah adalah gerakan meng-Islamkan umat non-muslim. Di sinilah metode dakwah pesantren akan sedikit mengambil posisi yang lebih bermanfaat. Pesantren tidak menganggap bahwa konversi iman sebagai  inti dari sebuah gerakan dakwah. Lebih dari itu dakwah pesantren mengusulkan agar target dakwah dikonsentrasikan pemberdayaan umat dalam ranah internal. Dakwah memiliki titik sasaran pemberdayaan untuk kemandirian masyarakat muslim, membuka kesadaran untuk bangkit, dan menawarkan jalinan silaturrahmi yang kuat antar komunitas dengan kebersamaan menguatkan bangsa.


Kedua, dalam ranah kebijakan publik dan politik, dakwah pesantren adalah dakwah yang menawarkan gagasan ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara –civil right-. Sesuai dengan ciri khas gerakan pesantren yang tumbuh kembang bersama rakyat lapis bawah secara langsung, maka gerakan dakwahnyapun harus mengikuti dan menjawab kebutuhan masyarakat akar-rumput.


Ketiga, dalam ranah sosial, gerakan dakwah pesantren lebih memilih pendekatan dakwah kultural dibanding militan. Pesantren lebih cenderung memberikan gagasan pengembangan Islam sebagai sistem moral – al Islam huwa al nizham al akhlaqiyah -. Pesantren menolak segala bentuk kekerasan dan penindasan, terlebih dengan mengatas-namakan agama dan gerakan dakwah.

Keempat, dalam konteks komunikasi global, dakwah pesantren justru memberikan peluang dialog antara budaya dan keyakinan – intercultur faith understanding -. Pesantren melalui kelembagaan yang lebih formalnya yakni Nahdlatul Ulama (NU) menjadi sebuah tampilan sistem keagamaan yang ramah sekaligus sangat bersikap universal. Berusaha hadir dengan melindungi siapa saja, dan mengembalikan pengertian Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Gerakan dakwah pesantren seperti ini tentu memilliki konsentrasi dan cita-cita mempertahankan kesatuan dan keutuhan bangsa, dan ini dipandang lebih penting dan sesuai dengan konteks keIndonesiaan, dibanding hanyut dalam romantisme sejarah kejayaan Islam yang memiliki perbedaan yang tajam dengan kondisi sekarang.[9]
Sebenarnya masih banyak model dakwah melalui pendidikan Islam terlebih dalam lingkungan pesantren. Mengingat santri lulusan pesantren yang notabenya terdiri dari berbagai macam daerah akan menyebarkan ajaran islam yang telah di dapatnya ke daerah asal mereka.



[1] muftiramdlani.wordpress.com.htm
[2] Nasution Khoiruddin, Pengantar Studi Islam, (Yogyakarta, ACAdeMIA :2010).h. 108.
[3] . Nasution Khoiruddin, Pengantar Studi Islam, (Yogyakarta, ACAdeMIA :2010).h.109.
[4] Nizar Samsul, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Sejarah Pendidikan Era Rasululloh Sampai Indonesia, (Jakarta, Kencana: 2007).h. 286.
[5] .Ismail Faisal, Islam : Melacak Teks Menguak Konteks (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2009)h.82.
[6] .Ibid h.81.
[7] .Ahmad Mansyur Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1998), cet IV,h.130.
[8] . Nata Abudin, Sejarah pertumbuhan dan perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2011),h.118-119.
[9] . http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,37015-lang,id-c,kolom-t,Dialog+Pesantren-.phpx

Pajangan.COM



Ruma Suasana Tempo Dulu

Helm Iseng di pajang

Pajangan.COM

Jumat, 16 November 2012

Garis Besar (GB)

Workshop Suka TV secara garis garis besar sudah berjalan dengan baik, dari sini akan dipilih beberapa peserta workshop yang mempunyai kriteria-kriteria tertentu menurut penilaian tim untuk dapat menjadi anggota baru crew Suka TV...
Semua tim bekerjasama bahu membahu demi kelancaran kegiatan ini, kami bangga untuk ini semua. Inilah indahnya berbagi pengetahuan kepada orang lain. ketika kita mempunyai sedikit pengetahuan namun kita dapat menularkanya kepada orang lain, maka kita akan mendapatkan sebuah kepuasan diri. Sebenarnya bukan hanya itu, terlebih kita juga mendapatkan penghargaan lain baik bersifat dunia maupun alam ghoib..
%,Garis Besar,%